Home / Headline News / Kisah Heroik Dibalik Kerja Cepat Satpolair Banyuwangi Mengevakuasi Korban KMP Rafelia 2

Kisah Heroik Dibalik Kerja Cepat Satpolair Banyuwangi Mengevakuasi Korban KMP Rafelia 2

Screen Shot 2016-03-06 at 7.25.16 PM

Kecelakaan laut yang menimpa Kapal Motor Penumpang (KMP) Rafelia 2 di perairan Banyuwangi Beach membuat  para personil Satpolair Polres Banyuwangi tak bisa tidur. Proses evakuasi gabungan Basarnas, Polair, Brimob, TNI, KPLP dan penyelam Bangsringboat secara resmi memang dimulai Sabtu (5/3/2016). Namun sejak Jumat malam (4/3/2016), polisi perairan sudah sibuk persiapan. Inilah cerita heroik mengenai proses evakuasi para korban dari atas Kapal Polisi (KP) X-1033 yang terekam wartawan polresbanyuwangi.com, Subahrudin Yusuf.

Hempasan ombak  terasa mengoyang-goyang bodi kapal berbahan fiber kebanggan Satpolair Polres Banyuwangi. Kala itu jarum jam baru menunjuk pukul 08.25 WIB. Rombongan tim evakuasi dari Satpolair Banyuwangi bersama penyelam binaannya, Bangsringboat, masih mengapung-apung di tengah perairan karena menunggu arus bawah laut di sekitaran Banyuwangi Beach atau arah selatan Pelabuhan Landing Craft Mesin (LCM) Ketapang bersahabat untuk diselami.

Sambil menunggu arus tenang, Kasatpolair AKP Basori Alwi turun dari KP X-1033 menuju Kapal  Bangsringboat. Di atas kapal kayu bermesin tempel tunggal itu mantan Kasatpolair Polres Situbondo ini memberikan arahan khusus mengenai keamanan penyelaman sampai target evakuasi. Sebelumnya, penyelam Bangsringboat memang telah turun untuk memasang tali pelampung di bangkai KMP Rafelia 2 yang karam di kedalaman kurang lebih 19 meter dari permukaan laut.

Tak berselang lama, penyelam dari Basarnas dan KPLP turut bergabung. Pasukan katak TNI AL juga berputa-putar mengitari titik ordinat tempat kapal milik PT Darma Bahari Utama karam. Tepat pukul 09.30 WIB, penyelaman evakuasi pun dimulai. Para penyelam binaan Satpolair langsung menceburkan diri ke laut dilengkapi peralatan penyelaman. Proses evakuasi SAR gabungan ini dibawah kendali Kasatpolair AKP Basori Alwi.

Para jurnalis yang sejak pukul 06.15 WIB, Sabtu (5/3/2016), menumpang KP X-1033 dari Pelabuhan Tanjungwangi Ketapang terus memantau dari atas dek. Mata mereka terus fokus mengawasi pergerakan Kapal Bangsringboat yang dikelilingi perahu-perahu karet milik Basarnas, Brimob, Polair, KPLP maupun milik Pasukan Katak TNI AL. Tepat pukul 10.00 WIB atau setengah jam pasca penyelaman perdana digelar, penyelam binaan Satpolair Banyuwangi memberikan kode telah mengangkat satu mayat.

Situasi dari atas kapal polisi pun gaduh. Seluruh media yang ada di kapal mulai mengarahkan kameranya untuk mengambil gambar. Komandan Kapal X-1033 Brigadir I Nyoman Suma mengikuti permintaan wartawan untuk mendekati Kapal Bangsringboat. Sementara Kasatpolair yang berada di kapal kayu itu  sebagai pengendali lapangan berupaya menaikkan jasad korban pertama yang ditemukan bersama kru Kapal Bangsringboat. Begitu mayat berhasil dinaikan ke atas, kapal kayu itu langsung meluncur kencang menuju Pantai Banyuwangi Beach untuk dievakuasi menuju RSUD Blambangan.

Penyelaman kembali dilanjutkan. Sukses penyelam Bangsringboat membuat penyelam dari SAR lain terpancing untuk menuai sukses serupa. Merekapun turun ke dasar laut untuk melakukan penyelaman. Sementara di atas KP X-1033 para wartawan menggelar jumpa pers bersama Kasatpolair AKP Basori Alwi. Para awak media itu antara lain, Net TV, Trans 7, ANTV – TV One, Fotografer Antara, Radar Banyuwangi, Memorandum, polresbanyuwangi.com, serta satu wartawan mingguan. Usai pers rilis, para wartawan ini langsung ngebut untuk update.

Di tengah kesibukan menulis berita dan mengirim gambar ke redaksi, tiba-tiba terdengar teriakan ditemukan mayat kedua oleh penyelam tradisional. Jeda penemuan itu hanya selang setengah jam dari sukses pertama. Kondisi kapal polisi kembali gaduh karena gerakan wartawan yang ingin lekas mengabadikan gambar. Kasatpolair yang kembali ke Kapal Bangsringboat pasca jumpa pers kembali memimpin evakuasi jasad Iluh Masruroh (28), serta anaknya Mohammad Ramlan (18 bulan) untuk dibawa ke Pantai Banyuwangi Beach.

Tulisan wartawan dari hasil rilis pertama spontan berubah. Wawancara kedua seketika digelar di atas KP X-1033 bersama Kasatpolair AKP Basori Alwi yang kembali merapat usai mengantar jenazah kedua ke tepi. Bisa dibilang keterangan dari Kasatpolair inilah yang paling kridibel karena mengetahui langsung proses evakuasi dibanding institusi lain yang hanya melihat dari jauh.

Usai rilis kedua, wartawan kembali sibuk menulis berita. Siang itu kapal polisi perairan mendadak berubah menjadi kantor redaksi para jurnalis. Fasilitas listrik yang tersedia sangat memudahkan kerja pemburu berita segera update, karena peristiwa ini menjadi kabar nasional.

Belum lama mengedit berita dari satu menjadi tiga mayat, tepat pukul 11.14 WIB, jasad keempat ditemukan penyelam Bangsringboat. Situasi kembali heroik. Seluruh kapal karet yang mengapung di Perairan Banyuwangi Beach mendadak merapat seolah ingin pasang aksi agar tersorot kamera wartawan.

Pasca penemuan yang ketiga ini, seluruh awak media kembali fokus menuntaskan pekerjaannya menulis berita. Sementara aparat Polair dari Polres Banyuwangi bersama Ditpolair Polda Jatim beristirahat di tengah kapal. Kelucuan pun terjadi ketika anggota Satpolair Polres Banyuwangi Brigadir I Wayan Wedhana kepergok hendak kencing di kamar ganti bawah kemudi menggunakan botol air mineral.

“Mohon ijin buang air kecil komandan,” begitu ucapnya kepada Kasatpolair AKP Basori Alwi yang tengah berbicang santai dengan Kasatrolda Ditpolair Polda Jatim AKBP Heru Purnomo.

Permintaan ijin itulah yang memicu kelucuan di kalangan anggota polisi perairan serta para jurnalis yang ada di KP X-1033. Sang brigadir berdarah Bali itu tampak kecewa saat permohonannya tak dikabulkan sang pimpinan. Namun hajat kecil itu bisa dituntaskan setelah sejumlah rekan sejawatnya mengikuti kencing di botol air mineral usai sang pimpinan turun kapal menemui penyelam Bangsringboat.

Ternyata kerja polisi perairan dalam mengevakuasi korban KMP Rafelia 2 tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Mereka sampai rela menahan kencing karena tak sempat sandar ke darat. Bahkan ada salah satu anggota yang mengoleskan minyak wangi lantaran masuk angin akibat kurang tidur. HP android milik Kaurmintu Satpolair Banyuwangi Bripka Hardi juga rusak akibat terendam air meski sudah dibungkus plastik pelapis. Itu semua dijalankan demi mengedepankan tugas negara. Sayang kerja kerasnya bersama Bangsringboat sempat diklaim sebagai keberhasilan instituasi lain yang hanya pasang aksi di perairan.  HUMASPOLRES

About admin91

Check Also

PSHT RANTING KAPAS ADAKAN GEBYAR SHOLAWAT BERSAMA HABIB MUHSIN AL HAMID

BOJONEGORO- Ribuan warga desa Sambiroto kecamatan kapas memadati lapangan desa sambiroto sabtu 22/07/2017 malam, dalam …