Home / Headline News / Sejak Tahun 2015 Gafatar Bubar

Sejak Tahun 2015 Gafatar Bubar

13 Mantan GafatarTribratanewsJatim.com: Misteri maraknya kasus orang hilang yang diduga ikut organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) mulai menemui titik terang. Mantan pengurus Gafatar Jawa Timur membantah hilangnya sejumlah orang di Surabaya tidak ada kaitannya dengan organisasi Gafatar. Organisasi masyarakat (ormas)  ini sudah bubar sejak Agustus 2015, karena tidak mendapat pengesahan dari Kemendagri.

Sebelum dibubarkan pada Agustus 2015 lalu, jumlah anggota Gafatar di Jawa Timur sedikitnya 945 orang. Sementara di seluruh Indonesia sendiri berjumlah sekitar 10 ribu orang. Gafatar sendiri merupakan pergantian nama dari ormas bernama komar, yang sebelumnya bernama Al Qiyadah Al Islamiyah.

13 mantan gafatar 1Mantan pengurus Gafatar Jawa Timur, akhirnya angkat bicara menyikapi kabar hilangnya sejumlah orang yang diduga ikut organisasi gafatar. Dokter Budi Laksmono, mantan Kepala Bidang Kesehatan organisasi Gafatar Jawa Timur mengaku, ormas Gafatar sudah dinyatakan bubar. Bubarnya ormas yang terbentuk pada tahun 2011 lalu ini karena tidak mendapat pengesahan dari Kemendagri, setelah dinyatakan bubar sudah tidak ada lagi kegiatan di ormas Gafatar.

Selama aktif, Gafatar banyak melakukan kegiatan sosial dan budaya serta tidak berafiliasi dengan keagamaan manapun. Namun Gafatar berpegang pada keyakinan berbagai kitab suci mulai injil. Taurat  hingga Al Quran.

Terkait banyaknya orang hilang yang diduga berada di suatu daerah di Kalimantan dan bergabung dengan Gafatar, hal ini juga di bantah oleh mantan pengurus Gafatar itu. Beberapa orang mantan anggota Gafatar ini memilih meninggalkan keluarga mereka,  mengikuti kepercayaan masing-masing yang meyakini adanya masa paceklik yang akan segera datang, sehingga mereka pindah tempat tinggal ke Wilayah yang luas dan subur, yakni di Kalimantan untuk menjadi petani, peternak dan nelayan disana.

Peran Aktif Guru Dan Ulama

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur minta kepada guru dan ulama untuk bisa berperan aktif menangkal ajaran sesat yang saat ini berkembang pesat di masyarakat, seperti  Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di sejumlah daerah termasuk Jawa Timur yang menjadi perhatian serius pemerintah dan aparat penegak hukum.

Anggota Komisi E DPRD Jatim, M. Eksan ditemui di DPRD Jatim, Rabu (13/1/2016)  juga berharap  pemerintah dan ormas Islam tak cukup hanya menyelesaikan fenomena aliran sesat ini dengan fatwa sesat, dan menjerat pelaku dan pengikut aliran dengan pasal penistaan agama serta larangan penyebaran ajaran. Tetapi harus mengajak mereka yang merupakan pengikut Gafatar berdialog dengan terbuka dan hati yang tenang.

Eksan yang berasal dari Fraksi  NasDem itu juga meminta para guru agama di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi, yang

mendapat fasilitas negara, tak melulu menjalankan tugas di sekolah, akan tetapi juga di masyarakat dan keluarga masing-masing anak didik.

“Peningkatan peran guru ini selain karena alasan dakwah, tapi juga karena alasan sosial mapping dan deteksi dini terhadap ragam varian aliran sesat yang berkembang di masyarakat,”ujarnya.

Pihaknya juga, menyarankan ormas Islam yang ada difasilitasi oleh negara untuk melakukan program dakwah Islam rahmatan Lil ‘alamin untuk menangkal radikalisme agama, dan dakwah Islam lurus untuk menangkal aliran sesat. Dakwah itu harus difokuskan ke daerah-daerah yang menjadi pusat pertumbuhan dan perkembangan Islam radikal dan aliran sesat..

Pemerintah melalui aparat, harus menyiapkan social mapping dan perencanaan dakwah yang baik di daerah-daerah tersebut. “Kami tak bisa berharap ke model dakwah yang serampangan, apa adanya, dan asal jalan. Akan tetapi model dakwah yang sistematis, struktural dan massif. Dengan demikian, agama bisa menjadi modal bagi podasi masa depan Indonesia yang berketuhanan yang maha esa,”ujarnya.

Sementara itu Anggota DPRD Jatim lainnya, M. Fawaid mendesak pemerintah Jatim untuk mengantisipasi pergerakan Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) yang dianggap sebagai aliran menyesatkan. “Keberadaannya harus diantisipasi jangan sampai masuk ke Jatim,” ujarnya

Menurutnya, dilihat dari struktur Jatim yang mayoritas pondok pesantren dirinya merasakan sangsi Gafatar akan bisa berkembang di Jatim. ” Kalau aliran keras tak akan bisa masuk di Jatim karena masyarakat Jatim memegang teguh anti kekerasan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tak hanya itu Pemprov Jatim harus juga melibatkan ulama untuk memperkuat keagamaan di tingkat masyarakat.” Harus dilibatkan bagaimanapun juga ulama masih didengar oleh masyarakat,” tegas Fawaid Politisi asal Fraksi Gerindra Jatim ini. (mbah heru)

Foto: Budi Laksmono (mantan pengurus Gafatar Jawa Timur)

About admin91

Check Also

Kisah Heroik Dibalik Kerja Cepat Satpolair Banyuwangi Mengevakuasi Korban KMP Rafelia 2

Kecelakaan laut yang menimpa Kapal Motor Penumpang (KMP) Rafelia 2 di perairan Banyuwangi Beach membuat  …